Pages

Monday, April 4, 2011

Energi Alternatif Briket Batubara

BRIKET BATUBARA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF
PENGGANTI MINYAK TANAH

Oleh. Edy Jamal Tuheteru *)
           

Bahan bakar minyak dalam beberapa tahun terakhir mengalami krisis, hal ini mengakibatkan subsidi BBM dikurangi, selain itu juga cadangan minyak dalam negeri juga semakin sedikit dan makin menipis, diperkirakan cadangan minyak yang ada kurang lebih 9 miliar barel (Ditjen Migas), dengan produksi minyak 1,07 juta barel/tahun, maka cadangan yang ada hanya mencukupi untuk 10 tahun ke depan, artinya kalau dalam beberapa tahun kedepan tidak ditemukan cadangan baru maka negara kita akan semakin mengalami krisis energi, khususnya minyak bumi.
Minyak tanah di Indonesia yang selama ini di subsidi menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari 49 trilun rupiah per tahun dengan penggunaan lebih kurang 10 juta kilo liter per tahun. Untuk mengurangi beban subsidi tersebut maka pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang ada dialihkan menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Namun untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM dalam hal ini Minyak Tanah diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapat. 
            Briket batubara merupakan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak, briket batubara sebenarnya sudah disosialisasikan oleh pemerintah semenjak tahun 1993, namun dalam perjalannya briket batubara masih mengalami kendala dalam pemakainnya, apalagi kalau digunakan untuk keperluan rumah tangga. Adapun beberapa kendala dari pemanfaatan briket batubara diantaranya sulitnya menyalakan briket batubara dalam waktu cepat, sulit mematikan sewaktu-waktu serta masih ada beberapa kendala yang berhubungan dengan lingkungan. Sehingga masih ada beberapa penelitian yang harus dilakukan guna meningkatkan efesiensi dalam pemanfataan briket batubara.
            Briket batubara merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari batubara dengan sedikit campuran tambahan, briket batubara juga merupakan energi alternaif pengganti bahan bakar minyak yang biasanya digunakan untuk keperluan industri dan rumah tangga yakni untuk pengolahan makanan, pengeringan, pembakaran dan pemanasan. Briket batubara untuk keperluan rumah tangga harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya: tidak menghasilkan asap yang banyak, tidak berbau, mudah menyala, tak menghasilkan racun, fisiknya tidak mudah pecah, kandungan abu rendah, memenuhi sfesifikasi emisi gas yang telah ditetapkan pemerintah, dengan memenuhi kriteria tersebut, briket batubara akan sangat efesien dan efektif dalam pemanfaatannya.

Konversi Minyak Tanah Ke Gas Elpiji
Setelah pemerintah menghentikan sosialisasi penggunaan briket batubara, akhirnya pemerintah memutuskan penggunaan gas elpiji. Bahakan sampai sekarang pun sosialisasi masih sering dilakukan. Tanggapan masyarakat terhadap pengguanan gas elpiji ini bermacam-macam, mulai dari tidak setuju bahakan ada beberapa warga juga setuju. Di beberapa daerah setelah pengumuman pemerintah mengenai kenaiakan harga gas elpiji, kenaikan ini akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat, karena sampai sekarang perekonomian masyarakat belim stabil akibat kenaikan harga BBM. Sehingga ada beberapa warga yang akan kembali menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Karena oleh masyarakat dirasakan kenaikan harga gas elpiji sangat memberatkan.
Selain kasus tersebut di atas penggunaan gas elpiji masih harus dievaluasi, hal ini dikarenakan terjadi beberapa kasus terjadinya ledakan gas elpiji diantaranya: ledakan gas di Medan yang mengakibatkan hancurnya tiga buah rumah, kemudian terjadi ledakan gas di sebuah toko roti di Ambon yang menewaskan salah satu penghuni rumahnya (Berita Metro TV), selain dua kasus tersebut masih banyak juga terjadinya ledakan tabung gas elpiji di beberapa tempat. Sehingga perlu ada perhatian khusus dari pemerintah tentang penggunaan gas elpiji sebagai konversi dari minyak tanah.

Briket Batubara
            Briket batubara yang sekarang beredar di masyrakat terdiri dari dua jenis, yakni (i) briket batubara berkarbonisasi dan (ii) briket batubara tidak berkarbonisasi. Briket batubara berkarbonisasi sering juga dikenal dengan briket batubara super, sebelum dicetak menjadi briket sebelumnya dilakukan kegiatan karbonisasi, yakni dilakukan dengan cara pembakaran batubara dengan oksigen terbatas dalam ruang tertutup, untuk mendapatkan semikokas atau kokas dengan kandungan abu (ash content) dan zat terbang (volatile matter) tertentu. Keunggulan dari briket batubara super ini adalah; tidak berbau dan berasap. Briket batubara super ini lebih cocok digunakan  untuk keperluan rumah tangga, namun dipasaran briket batubara super ini harganya lebih mahal dibandingkan dengan batubara non karbonisasi.
            Batubara non karbonisasi atau sering dikenal dengan briket batubara biasa, dalam pemanfaatannya masih memiliki beberapa kelemahan dibandingkan dengan briket batubara super yakni masih mengandung banyak zat terbang, sehingga menghasilkan bau dan asap yang masih banyak. Penggunaan briket batubara biasa ini lebih baik digunakan di dalam tungku, dan cocok digunakan untuk industri kecil dan menengah. Dipasaran briket batubara biasa lebih murah dibandingkan dengan briket batubara super.
            Keunggulan briket batubara sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak, diantaranya; harganya lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar minyak khususnya minyak tanah, panas yang dihasilkan lebih  tinggi dan kontinyu sehingga lebih baik untuk pembakaran yang lama, tidak beresiko meledak atau terbakar, tidak mengeluarkan suara bising serta tidak berjelaga, dan yang terakhir adalah cadangan batubara yang masih banyak khusunya untuk batubara low rank.

Cara Menyulut, Perbandingan terhadap Minayak Tanah serta Konsumsi Briket Batubara.

            Penyulutan dalam tungku batubara akan lebih mudah dilakukan dengan mencelupkan beberapa butir briket batubara ke dalam minyak tanah dan itu sebagai penyulut diletakan diatas dari tumpukan briket dalam tungku. Untuk 10 butir briket akan menyerap 0,05 liter minyak tanah, dapat juga dengan meletakan serbuk kayu lalu dibakar. Satu hal yang penting dan harus diperhatikan adalah penyalaan briket batubara selalu dilakukan dari bagian atas yang kemudian bara api akan menuju ke bawah dengan tujuan terjadi pemanasan dan pembakaran awal pada bagian bawahnya sehingga gas-gas yang naik ke atas akan terbakar lebih dahulu. Hal ini dilakukan juga bertujuan untuk mengurangi emis gas yang ditimbulkan dari pembakaran briket batubara yang ada dibagian bawah.
            Telah dilakukan beberapa kajian guna membandingkan briket batubara dengan minyak tanah. Hasil perbandingan penggunaan briket batubara menunjukan pemakaian briket batubara lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah, berikut adalah perbandingannya bila 1 liter minyak tanah harganya sebesar Rp. 3,000.- sedangkan harga briket batubara adalah Rp 1,300.-/kg. Maka untuk perbandingan penggunaan minyak tanah dan briket batubara pada beberap industri adalah sebagai berikut; (i). Industri rumah tangga dengan pemakaian minyak tanah perhari rata-rata adalah 3 liter sehingga harga pembelian minyak tanah adalah Rp. 9,000.-/hari sedangkan penggunaan briket batubara per hari adalah Rp 5,400.-/hari berarati ada penhematan sebesar Rp. 3,600.-/hari, (ii). Warung makan biasanya menggunakan minyak tanah sebsar 10 liter/hari sehingga biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 30,000.-/hari sedangkan untuk pemakaian briket hanya dibutuhkan biaya sebesar Rp. 18,000.-/hari, (iii). Industri kecil yang biasanya memerlukan minyak tanah sebesar 25 liter/hari maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 75,000.-/hari sementara penggunaan briket batubara diperlukan biaya sebesar Rp. 45,000.-, sehingga ada penghematan sebesar Rp. 30,000.-/hari. Dengan pengehematan yang dilakukan, biaya yang dihemat dapat digunakan untuk keperluan yang lain. Berdasarkan hitung-hitungan tersebut maka briket batubara masih lebih ekonomis dibandingkan dengan bahan bakar minyak khusunya minyak tanah.

Permasalahan dan Antisipasi Penggunaan Briket Batubara

            Tidak hanya briket batubara yang menghasilkan gas pembakaran, setiap zat yang dibakar termasuk bahan bakar minyak akan menghasilkan panas, gas-gas, residu hasil pembakaran yang besarnya tergantung pada jenis zat yang dibakar, teknik pembakaran dan kondisi pembakarannya. Demikian halnya briket batubara bila dibakar akan menghasilkan gas-gas hasil pembakaran yangdapat dikendalikan dan dieleminasi dengan pemilihan bahan baku, teknik pembuatan, desain tungku, teknik pembakaran dan desain dapurnya yang sesuai, sehingga briket batubara aman dipakai.
            Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi emisi gas hasil pembakaran briket batubara, yang pertama adalah pemilihan bahan baku, batubara yang merupakan kurang lebih 90% dari komponen briket batubara harus dipilih dengan kandungan sulfur yang rendah, disamping itu juga tidak mengandung logam-logam yang mudah menguap bila dipanaskan seperti air raksa (Hg), arsen (As), Timbal (Pb) dan sebagainya. Untungnya sebagain besar batubara Indonesia tidak mengandung unsur-unsur tersebut dan belerangnya (S) di bawah 1%.
Kedua, dalam pembuatann briket batubara. Dalam pembuatan briket batubara ditambahkan kapur [Ca(OH)2] sebanyak  ±5% yang nantinya akan menangkap gas SO2 yang dikeluarkan oleh briket yang terbakar menjadi CaSO4 padat yang terkumpul bersama abu briket batubara. Penambahan bubuk Biomas (serbuk kayu, bagas tebu dll) s.d. 20% dalam pembuatan briket batubara akan mengurangi emisi gas. Hal ini disebabkan biomas yang ada dalam briket akan mempercepat pembakaran dan menjadikan briket cepat terbakar sempurna.
Ketiga, desain tungku. Desain tungku yang baik adalah tungku yang efesien dan ramah lingkungan serta harganya dapat dijangkau oleh masyarakat.  Telah dilakukan berbagai kajian tentang desain tungku oleh Puslitbang tekMIRA.
Keempat, teknik pembakaran. Pembakaran briket batubara yang baik adalah dilakukan dari atas selanjutnya akan merambat membakar sendiri lapisan briket batubara yang ada di bawah, jadi pola pembakarnnya adalah “top-down”.
kelima adalah desain dapur. Ruangan dapur juga ikut berpengaruh, ventilasi udara yang baik akan mengurangi dampak dari emisi gas tersebut. Cukup dengan membuka jendela dapur  atau memasang cerobong diatas tungku. Bila ventilasi udara kurang bagus, maka pada saat pembakaran pertama bisa dilakukan di luar atau di ruangan yang terbuka, ketika briket batubara sudah terbakar sempurna barulah dimasukan ke dalam dapur.
            Tentunya masih banyak kekurangan briket batubara, sehingga masyarakat masih ragu untuk menggunakan energi alternatif tersebut. Oleh karena itu diharapkan dari pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk melakukan penelitian lanjutan guna mereduksi kekurangan dari briket batubara ini serta sosialisasi briket batubara ditingkatkan, sehingga masyarakat lebih mengetahui tentang briket batubara tersebut. Artinya dengan penelitian yang berkala dan akhirnya dapat mereduksi kekurangan dari briket batubara maka energi alternatif penganti minyak tanah akan semakin baik, sehingga kedepan tidak ada lagi ketertgantungan terhadap minyak tanah.

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Teknik Pertambangan
Universitas Trisakti, Jakarta